Halo, perkenalkan saya Muhamad Yusup Hamdani, tapi teman-teman biasanya memanggil saya Dani. Di internet, saya lebih sering dikenal dengan nickname daniwebdev.
Sebelum mulai, sedikit disclaimer: tujuan saya menulis cerita ini sederhana saja—sekadar menemani waktu luang dan menjadi tempat saya bernafas sejenak ketika mulai merasa burnout dengan pekerjaan. Katanya, menulis bisa membantu mengurangi stres, jadi saya coba saja… siapa tahu berhasil, haha.
Selain itu, tulisan ini juga saya jadikan dokumentasi perjalanan diri. Siapa tahu suatu hari nanti, ketika saya sudah berada di puncak karier (aamiin), saya bisa melihat kembali perjalanan ini dan tersenyum.
Saat ini saya bekerja sebagai Software Engineer secara full-time remote untuk salah satu perusahaan di Kuwait. Sehari-hari saya berkutat di industri teknologi, khususnya pengembangan software berbasis web. (Informasi lebih lengkap bisa dilihat di halaman utama website ini.)
Tapi jika di tarik mundur beberapa belas tahun ke belakang, semuanya berawal dari hal yang sederhana, waktu saat pertama kali terpapar dengan barang ini (teknologi), cita-cita saya cuma satu yaitu ingin menjadi Guru TIK dan punya usaha warnet , that’s it.
Namun, setelah di jalani takdir punya rencana lain, sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan, saya justru menemukan dunia yang jauh lebih seru dari impian awal saya. bahkan dulu saya tidak tahu ada profesi bernama Software Engineer / Programmer. 😀
Cerita ini saya mulai di masa setelah saya lulus SMA…
2015
Tahun 2015 adalah tahun saya resmi menyelesaikan pendidikan di Madrasah Aliyah di Jampang Kulon Madrasah Aliyah Nida Bahari lebih tepatnya. Madrasah Aliyah adalah sekolah yang setara dengan SMA hanya saja ada tambahan kurikulum keagamaan yang di susun dari Kementrian Agama, dalam hal ini Agama Islam.
Banyak tidak nyambung nya memang, apabila dikaitkan dengan profesi saya saat ini, bahkan SMP nya saya MTs (Madrasah Tsanawiyah) ya setara dengan SMP tetapi dengan kurikulum agama dan selama pendidikan MTs dan MA saya tinggal di pondok pesantren salaf yang notabene nya tidak ada mengajarkan seputar teknologi.
Sedikit mundur, saya belajar Programming saat masih SMP di dalam pesantren itu secara otodidak, bahkan orang sekeliling saya kebanyakan bingung apa yang sedang saya lakukan bahkan itu sampai SMA.
Tetapi untuk memberi sedikit gambaran, beginilah kondisi saya saat lulus sekolah waktu itu:
- Nilai akademis lumayan
- Bisa mengoperasikan Microsoft Office
- Menguasai dasar Corel Draw (Karena ikut organisasi OSIS bikin-bikin sertifikat kegiatan)
- Memiliki pengetahuan dasar tentang PHP, HTML, dan sedikit JavaScript (yang di pelajari sejak SMP)
- Punya antusiasme tinggi terhadap teknologi
(sejak SD, dulu awalnya suka ngoprek elektornik seperti bongkar-bongkar radio, VCD player, dll pas kelas 6 SD mulai kenal internet karena di kasih HP sama orang tua, karena mau berjauhan sama orang tua saya tinggal di pesantren)
Kenapa saya memiliki pengetahuan tentang Bahasa Pemrograman, yang mana tidak ada kaitan dengan latar pendidikan saya? Karena saya sempat belajar otodidak sejak kelas 2 SMP mungkin di lain tulisan akan saya jelaskan kenapa saya bisa kenal dengan “barang” tersebut.
Itulah modal awal saya untuk memulai perjalanan setelah lulus sekolah. Rencana awalnya, saya ingin melanjutkan kuliah. Saya menargetkan masuk perguruan tinggi negeri melalui jalur beasiswa seperti SBMPTN atau SNMPTN.
Karena sejak dulu saya cukup tertarik dengan dunia teknologi, saya memilih jurusan Teknik Informatika. Sejujurnya, waktu itu saya juga belum benar-benar paham seperti apa jurusan tersebut. Yang saya tahu hanya satu: saya suka teknologi. Kebetulan saya sudah mengenal sedikit pemrograman web sejak SMP, belajar otodidak, dan cukup menikmatinya. (Kisah tentang bagaimana saya mulai belajar coding akan saya ceritakan di bagian lain.)
Namun, meskipun saya tertarik dengan teknologi, setelah lulus SMA saya belum punya gambaran jelas tentang akan bekerja sebagai apa dan di bidang apa. Waktu itu, cita-cita saya masih sederhana: menjadi Guru TIK dan punya usaha warnet.
Sekitar Bulan Juni/Juli
Singkat cerita, saya mengikuti jalur SNMPTN untuk mendapatkan beasiswa melalui nilai rapor. Namun ketika pengumuman tiba, hasilnya: saya dinyatakan tidak lulus.
Sempat ada rasa putus asa, tetapi saya tidak mau berhenti di situ. Saya memutuskan mencoba jalur SMBPTN (Tes Mandiri), lalu mendaftar dan berangkat ke Bandung untuk mengikuti seleksi. Kebetulan di sana ada saudara saya, Saroh, yang sudah lebih dulu mendapatkan beasiswa.
Tes berlangsung selama dua hari—hari pertama ujian, hari kedua pengumuman. Saya masih ingat jelas momen saat saya melihat daftar kelulusan, dan ternyata nama saya tidak ada di sana.
Sedikit kecewa, tentu saja. but life must go on…
Setelah itu, saya tidak langsung pulang ke Sukabumi. Saya menuju Bogor, ke rumah saudara saya lainnya, Hudan. Karena sudah cukup putus asa soal kuliah, saya mulai memikirkan rencana baru: mencari pekerjaan di pabrik atau perusahaan sekitar sana. Dalam pikiran saya saat itu, bekerja sebagai buruh pabrik mungkin jalan yang paling realistis.
Saya tinggal di Bogor sekitar dua hari satu malam. Hari pertama, saya menyiapkan beberapa berkas lamaran dan mengantarnya ke beberapa pabrik di sekitar rumahnya Hudan. Ada juga satu lamaran yang akan dibawa oleh Hudan untuk dimasukkan ke tempat kerjanya.
Malam harinya, Hudan meminta saya membuat lebih banyak lamaran—sekitar tujuh berkas, semuanya ditulis tangan—yang katanya akan dia masukkan ke pabrik-pabrik lain pada hari-hari berikutnya. Sementara itu, saya harus pulang ke Sukabumi keesokan paginya.
Keesokan harinya, saya pamit dan kembali ke rumah di Sukabumi, tepatnya di Jampangkulon.
Saat-saat jadi pengangguran
Setelah pulang dari Bogor, saya kembali ke rumah dan resmi menjalani hari-hari sebagai pengangguran. Rutinitas saya setiap hari cukup sederhana: bangun, makan, lalu berangkat ke tempat nongkrong favorit saya—Telkom Wifi.id. Di sanalah saya menghabiskan sebagian besar waktu, menelusuri internet, bergabung di berbagai komunitas Facebook, dan menikmati hiruk-pikuk dunia online yang terasa lebih hidup dibandingkan hari-hari saya di rumah.
Di tengah masa-masa menganggur itu, saya mulai mencoba mengasah kembali kemampuan programming saya. Bahkan, saya sempat tertarik mempelajari dunia hacking karena banyak teman-teman online saya yang menekuni bidang tersebut. Bagi saya waktu itu, semuanya masih sebatas hiburan—sekadar rasa penasaran dan mencari kesibukan agar hari-hari tidak terasa kosong.
Hari-hari pun saya habiskan dengan rutinitas yang sama. Alhamdulillah, orang tua selalu mendukung. Setiap kali saya ingin pergi ke Wifi.id tapi tidak punya uang, saya tinggal bilang, dan mereka pasti membantu sebisanya. Meski begitu, saya tidak pernah memaksa—kalau mereka sedang tidak ada uang, saya paham kondisi itu dan memilih menahan diri.
Waktu itu, saya juga masih punya sedikit tabungan sisa Lebaran, jadi untuk jajan saya jarang meminta. Yang biasanya saya minta hanya uang bensin untuk motor bapak kalau ingin pergi ke Telkom Wifi.id. Untuk makan, saya sering di rumah saja supaya lebih irit. Intinya, meskipun sedang menganggur, saya berusaha sebisa mungkin tidak terlalu membebani orang tua, karena saya tahu kondisi mereka dan saya tidak ingin menambah kekhawatiran.
Memasuki bulan Oktober—sekitar satu atau dua bulan setelah masa menganggur saya dimulai—orang tua akhirnya mulai bertanya tentang pekerjaan. Suatu hari, ayah dan ibu saya berkata,
“Kamu mau nggak kerja jadi satpam?
Gajinya lumayan, nanti ditempatkan di pabrik K* Sukabumi.
Ada kenalan satpam senior dari bank *** di Sagaranten, kalau kamu mau nanti bisa dibantu masuk.”
Mendengar itu, saya langsung terdiam. Di satu sisi, pekerjaan itu bukan bidang yang saya minati sama sekali. Lagi pula, untuk menjadi satpam pabrik rasanya butuh kondisi fisik yang kuat—sedangkan saya, olahraga saja hampir tidak pernah.
Tapi di sisi lain, saya juga merasa tidak enak hati. Saya tahu orang tua pasti cemas melihat anaknya tidak bekerja dan seolah tidak punya arah. Mereka ingin yang terbaik untuk saya, dan tawaran itu adalah bentuk perhatian mereka.
Di momen itu, saya berada di antara dua perasaan: mengikuti kata hati atau menenangkan kekhawatiran orang tua.
Akhirnya, saya memutuskan untuk mencoba dulu—siapa tahu saya bisa betah. Suatu hari, saya dan bapak berangkat ke Sagaranten untuk menemui orang yang katanya bisa membantu memasukkan saya sebagai security. Di pertemuan itu, barulah saya mendengar ada permintaan “uang pelicin” sekitar satu juta rupiah. Katanya, kalau sudah diberikan, posisi saya pasti aman dan tinggal menunggu panggilan.
Jujur saja, praktik seperti itu adalah hal yang sangat saya benci, bahkan sampai sekarang. Tapi saat itu, saya memilih mengikuti alurnya tanpa banyak protes. Saya hanya bisa berdoa, berharap ini memang jalan terbaik yang sedang dibukakan untuk saya.
Namun setelah menunggu hampir satu bulan, kabar yang ditunggu-tunggu tak pernah datang. Setiap ditanya, jawabannya selalu mengambang dan tidak jelas. Di titik itu, saya mulai merasa sedikit hopeless—antara pasrah dan bingung harus melangkah ke mana lagi.
Di tengah kebingungan itu, orang tua tetap berusaha mencarikan jalan untuk saya. Mereka sempat menanyakan ke salah satu saudara yang bekerja di RSUD dan kebetulan memiliki jabatan cukup tinggi di sana—istilah kasarnya, mencoba peruntungan lewat “orang dalam”.
Beberapa waktu kemudian, saudara tersebut memberi kabar,
“Bisa masuk, tapi harus nunggu sampai sekitar bulan Maret 2016” karena RSUD ini milik pemerintah provinsi jadi secara SOP tidak bisa masuk, harus nunggu buka lowongan.
Saat itu masih bulan November 2015. Saya dan orang tua hanya bisa saling pandang dan berpikir, kalau memang rezekinya, ya kita tunggu saja.
Di sela-sela diskusi keluarga, orang tua juga sering menyarankan alternatif lain: kalau tahun depan saya belum juga mendapatkan pekerjaan, mungkin lebih baik saya kuliah saja. Waktu itu saya hanya mengangguk dan bilang “iya”, meski dalam hati masih ragu. Saya merasa kurang enak jika harus kuliah dibiayai orang tua—apalagi kalau jurusannya bukan yang benar-benar saya minati.
FYI, orang tua sebenarnya mengharapkan saya melanjutkan pendidikan di jurusan Hukum Islam (S.Hi). Tujuannya baik: mereka ingin saya bisa mengikuti jejak bapak yang bekerja di Kantor Urusan Agama dengan peluang masa depan sebagai ASN. Namun mereka tidak pernah memaksa. Mereka selalu bilang, kalau saya ingin kuliah IT pun tidak masalah—pilihan tetap di tangan saya.
Mendapatkan Panggilan Interview
Di bulan Desember, pada hari Kamis (saya lupa tanggalnya), sepulang dari Telkom Wifi.id sore hari, saya pulang ke rumah lalu sholat Ashar. Setelah selesai sholat, saya tiduran di kamar sambil menatap langit-langit, sambil memikirkan apa yang bisa saya kerjakan besok.
Tiba-tiba ada telepon masuk dari nomor kantor yang tidak saya kenal. Dalam hati saya langsung su’udzon, “Ah, ini mah penipuan.” Niat saya waktu itu mau saya angkat, terus langsung saya gas maki-maki. Lalu saya angkat teleponnya.
☎️ : “Halo, selamat sore?” (terdengar suara perempuan)
👦 : “Iya, sore!”
☎️ : “Benar ini dengan saudara Muhamad Yusup Hamdani?”
Sampai pada titik ini persepsi saya langsung berubah. Yang tadinya saya kira ini penipuan, tiba-tiba saya jadi ragu. Kok bisa tahu nama lengkap saya dengan tepat? Di situ saya mulai serius mendengarkan suara di telepon.
👦 : “Iya benar, Bu.”
☎️ : “Saya ** dari PT. B*** U****. Beberapa bulan yang lalu kami menerima lamaran kerja Mas. Apakah Mas saat ini sudah bekerja?”
Ternyata yang menelpon adalah perusahaan tempat saudara saya bekerja di Bogor. Dan beliau juga tahu bahwa saya ini saudaranya Hudan.
👦 : “Oh iya, saya saat ini masih belum bekerja, Bu.”
☎️ : “Baik. Kalau begitu, apakah Mas bisa datang untuk interview hari Sabtu minggu ini, sekitar jam 10, di kantor kami yang berada di ******? Mas bersedia?”
👦 : “Baik, saya bersedia, Bu. Terima kasih atas kesempatannya.”
☎️ : “Mas ini saudaranya Hudan, kan?”
👦 : “Iya benar, Bu.”
☎️ : “Nanti untuk detail alamatnya, Mas bisa tanya ke Hudan saja ya.”
👦 : “Iya, baik. Terima kasih banyak, Bu.”
Begitu telepon ditutup, saya langsung berteriak kegirangan. Saya lari dari kamar menuju dapur memanggil Mama, menghampirinya yang sedang masak. Perasaan saya campur aduk—kaget, senang, dan tidak menyangka akhirnya ada panggilan juga.
👦 : “Mama, Mama… alhamdulillah! Ada panggilan interview dari PT B****, tempat Hudan kerja!”
👩 : “Oh ya? Terus gimana, kapan?”
👦 : “Hari Sabtu ini, Ma. Katanya harus interview di Bogor.”
👩 : “Oh… berarti besok, Jumat, kamu harus berangkat ke Bogor dong. Kamu yakin mau?”
👦 : “Iya, Ma. Mau. Coba dulu aja, siapa tahu rezekinya di sini.”
👩 : “Iya sudah, kalau begitu besok kamu berangkat ke Bogor.”
Setelah itu, saya langsung sibuk menyiapkan semuanya untuk keberangkatan besok. Rasanya seperti ada semangat baru yang muncul. Rencana saya waktu itu: berangkat ke Bogor dulu, mampir ke rumah Hudan, dan nanti berangkat bareng dia ke tempat kerjanya untuk interview.
Dalam hati saya berulang kali berdoa, “Ya Allah, kalau ini jalan terbaik, mudahkanlah.”
Namun setelah saya menelpon Hudan dan berdiskusi lagi dengan orang tua, akhirnya rencana berubah. Saya memutuskan untuk tidak menginap di rumah Hudan, melainkan di rumah saudara yang ada di Cipaku. Alasannya sederhana: jaraknya jauh lebih dekat ke lokasi interview.
Lagi pula, kantor tempat Hudan bekerja ternyata berbeda lokasi dengan tempat saya akan interview. Hudan pun menyarankan, “Nanti kamu berangkat dari Cipaku aja, bareng teman aku. Dia juga kebetulan ada interview di tempat yang sama, hari yang sama.”
Akhirnya saya mengikuti saran itu.
Besoknya, hari Jumat, saya berangkat pagi-pagi sekali dari rumah. Rencana saya waktu itu ingin tiba di Terminal Sukabumi lebih awal, supaya bisa Jum’atan dulu di sana sebelum melanjutkan perjalanan ke Bogor.
Di dalam hati, rasanya campur aduk antara deg-degan, senang, dan takut gagal. Tapi lebih dari itu, saya merasa sedang melangkah ke sesuatu yang baru—entah itu rezeki saya atau bukan, saya ingin mencobanya.
Sesuai perkiraan, saya tiba di Terminal Sukabumi tepat menjelang waktu salat Jumat. Saya pun segera menuju masjid terdekat. Hari itu, salat Jumat terasa berbeda. Ketika sujud, saya berdoa lebih khusyuk dari biasanya—memohon agar perjalanan saya kali ini benar-benar menjadi jalan menuju rezeki, kalau memang itu takdir terbaik dari Allah. Selesai salat, dengan hati yang sedikit lebih tenang, saya melanjutkan perjalanan menuju Bogor.
Transportasi yang saya pilih adalah mobil angkutan L300—yang di daerah saya lebih dikenal sebagai “mobil setan” karena cara mengemudinya yang terkenal ugal-ugalan. Tapi apa boleh buat… dibanding bus besar, L300 jauh lebih cepat sampai. Saat itu yang penting adalah tiba di Bogor tepat waktu.
Perjalanan cukup melelahkan. Menjelang akhir tahun, jalanan dipenuhi kendaraan; macet di mana-mana. Perlahan matahari tenggelam, dan suasana berubah jadi remang-remang dengan aroma tanah basah setelah hujan. Di tengah perjalanan, sopir tiba-tiba mengumumkan, “Mobil ini nggak akan sampai terminal ya, paling sampai daerah sini aja. Nanti penumpang dipindahin ke angkot biar bisa lanjut ke terminal.”
Saya cuma bisa mengangguk, sambil berharap tidak ada hal aneh-aneh lagi terjadi di tengah perjalanan panjang itu.
Di situ saya langsung bingung. Sopir hanya bilang akan menurunkan kami “di sini”, tapi saya sama sekali tidak tahu “di sini” itu di mana. Ini pertama kalinya saya ke Bogor sendirian naik L300, jadi begitu mobil berhenti di pinggir jalan yang bahkan tidak saya kenali, saya hanya berdiri bengong sambil menenteng tas. dan sekarang saya tahu itu daerah pasar ciawi.
Penumpang lain terlihat santai—seolah mereka sudah terbiasa dengan skenario seperti ini. Sementara saya, yang baru pertama kali merasakan “petualangan transportasi” ala Bogor, cuma bisa melihat ke kiri dan kanan mencari papan nama jalan atau petunjuk apa pun.
Tak lama kemudian, sopir memanggil kami untuk naik ke angkot pengganti.
“Mas… ini angkotnya. Nanti sampai terminal baranang siang,” katanya sambil menunjuk angkot berwarna hijau yang berhenti tak jauh dari mobil.
Dengan sedikit ragu saya naik, berharap arah dan nasib berpihak pada saya sore itu. Di dalam angkot, saya cuma duduk sambil terus melihat keluar jendela, memeriksa setiap plang jalan seperti seorang detektif amatir—takut salah turun, takut nyasar, takut terlambat. Yang saya tahu hanya satu: saya harus sampai Cipaku malam itu juga.
Tapi setelah sampai di daerah Tajur, tepatnya depan Lippo Plaza Ekalosari, saya justru melakukan kesalahan: saya turun dari angkot. Alasannya sederhana—saya takut salah jalan dan ingin telepon keluarga dulu. Begitu turun, jalanan terasa asing.
Saya hubungi bapak, dan beliau bilang kalau saya sebenarnya diturunkan L300 sebelum sampai Ciawi… dan sekarang saya benar-benar tidak tahu sedang berada di mana.
Bapak menyarankan saya mencari angkot ke Sukasari dulu. Dari Sukasari baru cari angkot yang menuju Cipaku.
Saya ikuti arahan bapak, walaupun dengan rasa was-was takut salah naik. Syukurlah saya menemukan angkot ke Sukasari. Sesampainya di sana, saya turun dan berjalan kaki sambil memberi kabar ke orang tua. Setelah tanya sana-sini soal angkot ke Cipaku… jawabannya bikin lemas: angkot ke sana sudah tidak beroperasi setelah jam 5 sore, sementara waktu itu sudah hampir jam 9 malam.
Untungnya ada seorang sopir angkot yang baik hati memberi saran.
“Naik angkot yang ke BTM aja, Mas. Turun di Batu Tulis. Dari situ naik ojek ke bawah, arah Cipaku.”
Baiklah, saya ikuti. Saya naik angkot ke BTM dan duduk di depan sambil ngobrol sedikit dengan sopir untuk memastikan saya tidak tersesat lagi.
Sesampainya di Batu Tulis, sudah banyak ojek pangkalan yang mangkal. Mereka langsung menyapa, menanyakan tujuan saya. Saya bilang ingin ke Cipaku dan menyebutkan patokan sebuah toko bangunan tempat saya harus berhenti. Salah satu tukang ojek langsung mengangguk paham.
Setelah nego sebentar, kami sepakat dengan ongkos 10 ribu rupiah, dan saya langsung dibonceng menuju tujuan.
Alhamdulillah, ketika motor berhenti di depan gang menuju rumah saudara saya, rasanya lega sekali. Daerah itu masih familiar, karena saya pernah beberapa kali datang bersama bapak.
Begitu sampai rumah, saya langsung bersih-bersih badan (gak mandi) dan istirahat. Badan rasanya remuk, perjalanan panjang itu berakhir tepat ketika jam sudah menunjukkan lewat pukul sepuluh malam.
Hari Interview
Esok harinya (hari Sabtu) saya chating melalui BBM dengan temannya Hudan yang mau bareng ke interview di tempat yang sama, akhirnya kita janjian di depan gang yang semalem saya turun dari ojek, kenapa sodara menyarankan bareng sama dia, kebetulan dia memang jalurnya lewat situ jadi bisa sekalian bareng.
Dimotor kami tidak banyak ngobrol karena baru kenal juga, hanya basa basi sekedar perkenalan, ternyata dia ini lulusan Sarjana sedangkan saya waktu itu baru lulus MA, sedikit minder sebenarnya tapi ya sudahlah kalau gak kita coba kita gak akan pernah tahu juga kan.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 40 menit, akhirnya kami sampai di kantor tempat kita mau interview kebetulan kita terlalu awal datang dan kantor nya belum buka, setelah menunggu kurang lebih 30 menit, akhirnya ada karyawan yang datang dan membukakan pintu buat kami.
Setelah kantor dibuka lalu kami dipersilahkan masuk dan menunggu di sofa, dan sedikit di breafing.
“Nanti mulai test jam 9an ya, silahkan tunggu disini sambil menunggu teman-teman yang lain yang mau mengikuti test dan interview juga hari ini”
Dan ya hari ini kita tidak hanya di interview melainkan di test juga.
Setelah jam menunjukan jam 9, disitu kita mulai masuk ke pemberi materi / karyawan yang menerima kami dengan memperkenalkan diri dan memperkenalkan perusahaan.
disitu pelamar yang mau di test dan interview kurang lebih ada 9 orang termasuk saya, mereka rata-rata lulusan SMK dan S1 hanya saya yang lulusan Madrasah Aliyah. Ya sedikit minder tapi nothing to lose aja yakin dengan rencanya-Nya.
Oiya, saya rencananya mau melamar posisi sebagai NOC (Network Operation Center) atau orang yang jaga di Data Center, waktu itu saya gak tahu apa itu NOC tetapi kata sodara saya coba aja disitu soalnya lowongan nya buat disitu katanya, jadi saya ambil itu
Lalu kami mengerjakan test yang di berikan, dan setelah kami semua mengerjakan test nya, kami diminta menunggu kurang lebih 30 menitan untuk diperiksa hasil test nya, lalu kami di panggil satu persatu untuk di interview oleh manager HRD nya waktu itu.
Akhirnya setelah semua orang di interview dan mereka bisa pulang, giliran saya yang di panggil jadi saya paling terakhir di interview. sedikit deg degan karena ini interview kerja pertama kali dalam hidup saya.
Saat di interview, Ibu HRD ini memberikan ulasan dan membahas pemahan saya tentang teknis berdasarkan jawaban pada lembar soal yang sudah di isi, kesimpulan nya seperti ini :
“Sepertinya kamu masih perlu belajar banyak tentang jaringan dan server, tetapi kamu cukup tau sedikit tentang dasarnya dan saya lihat kamu ada kemampuan dalam web programming, apakah kamu bersedia untuk mengisi lembar soal lagi untuk posisi web developer ?”
Waktu itu saya di beritahu seperti itu hanya mengangguk-angguk saja, karena memang pemahaman saya tentang jaringan hanya sebatas tau IP yang biasa di pakai saat pointing domain pada DNS saat deploy web di cpanel. dan tau sedikit cara config IP pada komputer supaya bisa sharing file via kabel LAN.
Tetapi diberikan tawaran untuk mengisi soal posisi web developer, saya jelas mau-mau aja karena secara ketertarikan saya lebih tertarik ke web development, seperti yang saya bilang tadi kenapa ambil posisi NOC karena kata sodara lowongan nya ada disana, mungkin maksudnya untuk memperbesar kemungkinan.
Setelah saya menyetujui untuk mengisi lembar soal posisi web developer, saya di arahkan kembali ke meja tadi untuk mengisi lembar soalnya, lalu para manager itu izin pulang karena waktu sudah menunjukan jam 13:00 dan memberikan arahan jika sudah selesai nanti jawaban ya di simpan di mas S*** beliau yang jaga tempat itu.
Disitu saya mengerjakan literally cuman sendirian plus dengan Mas S*** yang jaga tempat itu. karena tempat itu bukan tempat operasional melainkan ada Data Center dan lantai dasar co-working space dimana tempat kami para pelamar pada duduk, dan di hari itu co-working space nya tutup. jadi sangat sepi.
Akhirnya saya mengerjakan soal untuk posisi web developer, dimana soalnya tentang step by step membuat website company profile dalam format briefing / requirement, dan tugas nya mengimplementasikan itu kedalam kode. disini ada kejadian lucu, karena diminta ngoding di atas kertas HVS jadi gak tau klo misal ada syntax error wkwkwk
Singkatnya, saya sudah mengerjakan soalnya lalu di berikan ke penjaga disana lalu saya pamit pulang.
Untuk pulang nya saya tidak bareng lagi dengan teman sodara saya, tetapi saya pulang di jemput oleh sodara dan dianter pulang ke Cipaku untuk menunggu panggilan ke 2 apabila memang lolos.
Pulang Tanpa Hasil
Saat di cipaku, saya punya itikad kalau misal senin tidak ada panggilan kemungkinannya saya gak lolos, dan saya memutuskan untuk pulang saja ke Sukabumi.
Setelah saya tunggu-tunggu sampai hari senin sore, ternyata memang tidak ada panggilan kata saya mungkin memang bukan rezekinya disini dan saya memutuskan besok nya hari selasa untuk pulang.
Kenapa tidak menanyakan ke sodara saya yang bekerja disana, karena sodara saya juga tidak punya akses langsung untuk menanyakan dan juga kayak gimana gitu mungkin untuk menanyakan nya seperti orang titipan dan saya juga tidak mau membebani sodara saya yang kerja disana. jadi biarkan seperti air mengalir aja lah.
Besokannya saya pamit kesodara yang di Cipaku yang memberikan tumpangan tinggal sementara tadi untuk pulang ke Sukabumi, pagi-pagi saya naik angkot ke tempat dimana mobile L300 ngetem nunggu penumpang, dan langsung berangkat ke Sukabumi ke rumah orang tua.
Selama diperjalanan pulang hanya bisa memikirkan apa rencana kedepan, karena gagal nya masuk keperusahaan ini. tetapi disitu sebenarnya masih ada harapan yang kerja di RSUD itu mungkin tinggal nunggu aja sampai bulan Maret 2016.
Singkatnya sampai rumah sekitar jam 2 siang-an, ketemu orang tua lalu menceritakan apa yang sudah saya lalui selama perjalanan di Kota Bogor, dan juga menceritakan kalau saya tidak lolos, meskipun sebenarnya tidak ada kabar yang resmi kalau saya ga lolos, hanya perkiraan saya saja pikir saya kalau test hari sabtu setidaknya senin bisa di putuskan lolos atau tidaknya.
Sekitar jam 3 sore, lagi-lagi sekitar abis asyar tiba-tiba ada telpon dari Perusahaan yang kemarin saya interview, dan ngasih tahu kalau saya lolos masuk ke interview sesi 2, dan meminta saya datang lagi pada hari Kamis. dan saya mengiyakan.
Disitu saya merasa sangat senang lagi, karena ada harapan lolos nih, karena akan masuk interview sesi ke 2. meskipun besok nya saya harus berangkat lagi ke Bogor harusnya badan berasa capek banget, tetapi ke tutup sama rasa senangnya, sebagai gambaran perjalanan ke Bogor itu naik mobil umum sekitar 7-8 jam kalau lancar, Jadi lumayan berasa capek nya.
Hari rabu nya saya langsung berangkat ke bogor dengan tujuan ke Cipaku lagi, Alhamdulillah di perjalan selamat tanpa ada kendala apapun.
Sampainya di cipaku, saya menghubungi Hudan dan ngabarin kalau saya sudah di cipaku, dan hudan ngabarin malam ini dia dapet shift malam jadi saya bisa ikut menginap di kantor utamanya, besok katanya berangkat dari sana.
Malamnya hudan jemput saya ke cipaku dan kami berangkat ke pajajaran ke kantor utama tempat Hudan kerja, sampai di kantor utama saya masuk dan ketemu beberapa teman Hudan dan mengenalkan nya kepada saya, lalu hudan mengantar saya ke mushola di bawah yang bisa untuk saya istirahat. Lalu saya rebahan disana dan tertidur.
Besok nya (Hari Kamis), saya cuci muka aja siap-siap berangkat ke kantor ke-2 dimana saya akan melakukan interview sesi 2. Kami makan beli makan ketoprak dulu untuk sarapan didepan kantor, dan setelah sarapan hudan meminjamkan motornya untuk saya pakai, dan memberikan arahan jalan menuju kantor ke-2 waktu itu saya ragu karena baru pertama kali bawa motor di keramaian, kata hudan “Gpp kamu pasti bisalah, tar juga terbiasa kalau udah dibogor”. Lalu saya berangkat dengan motor Hudan perlahan-lahan dan sampai di tujuan.
Interview Ke-2 (Diterima Kerja)
Sampainya di lokasi, kantor sudah buka dan saya menunggu di sofa seperti biasa sampai ada panggilan.
Setelah beberapa saat lalu saya dipanggil ke lantai 2 untuk melakukan interview sesi ke 2 bersama Manger Operasional nya. saya mulai interview dengan penuh membahas masalah teknis.
Kurang lebih kesimpulannya begini :
“Kamu kan awal test masuk ke NOC, tetapi pengetahuan kamu di Network dan Server masih jauh dibanding dengan pengetahuan kamu di Web Development. Jadi, kami sebenarnya melihat potensi kamu di web development tetapi kamu belum siap terjun langsung mengerjakan ke project-project kami saat ini. karena kami menggunakan framework dalam mengerjakan sebuah project sedangkan kamu belum pernah menggunakan framework sama sekali tapi PHP Native kamu sudah cukup lumayan pengetahuannya.”
“Jadi gimana kalau begini, kami disini ada tempat semacam internet cafe atau co-working space dan juga lab komputer untuk event workshop, pelatihan dan lain-lain, kalau kamu bersedia untuk sementara kamu kami tempatkan disini untuk menjaga tempat ini dan kamu bisa sambil belajar banyak hal disini termasuk sama orang-orang Data Center yang ada di lantai 3”
Disitu saya cukup senang karena diberikan lampu hijau meskipun posisinya sama sekali bukan yang saya lamar, tapi saya mengerti dan apa yang di jelaskan sama Manager itu benar semua adanya, saya memang belum pernah pakai framework sama sekali hanya menggunakan Pure PHP/PHP Native (Bahasa Pemrograman) sedangkan industri membutuhkan orang yang sudah menggunakan framework supaya bisa lebih mudah kerjasama dalam Tim.
Tapi buat saya kesempatan belajar nya ini yang luar biasa besar, komputer banyak, internet ngebut, listrik ada genset. dan saya bisa banyak belajar dengan senior-senior disana.
Dan jobdesk nya kurang lebih seperti ini :
- Menjaga kebersihan mulai dari Lantai-1, Lantai-2 (Opsional Lantai 3)
- Menjalankan operasional co-working space termasuk :
- Melayani konsumen (bikin kopi, teh, dll)
- Memastikan stok makanan/minuman ringan tersedia
- Membuat dan menyediakan makanan atau minuman yang konsumen pesan.
- Ikut terlibat dan Membantu teman-teman yang lain apabila ada kegiatan / event seperti workshop, pelatihan, dll di dalam atau di luar kantor. (tidak selalu)
Kurang lebih yang tertulis seperti itu, waktu itu juga saya di tawarkan tinggal di mess disitu jadi tidak perlu ngekos / ngontrak. dengan Gaji waktu itu 1,3Jt.
Setelah pulang dari interview saya ngabarin ke orang tua, bahwa saya diterima kerja disitu dan memohon izin dan doa restu karena saya akan merantau untuk bekerja.
To Be Continued….
Special Thanks To my Brother and Sister
- Siti Maesaroh Siko
- Hudan Fadilah & Tiara
- Teh Elim